Promo Karbon Aktif Calgon FiltraSorb 100 SELAMANYA

Click Me!

turbiditimeter |turbidity meter | alat ukur turbiditas dan penjelasannya

 jual turbiditimeter |jual turbidity meter | alat ukur turbiditas|jual turbidimeter

 
Air ialah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) dan temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik.

Air sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-).

Air tersusun atas molekul-molekul triatomik sederhana, tetapi tingkah laku air sangat kompleks dan beberapa hal agak unik. Sifat unik air muncul terutama dari struktur molekular dan resultan gaya-gaya intermolekularnya. Atom oksigen dalam molekul air dilukiskan membentuk orbital hibrida terluar sp3, dengan dua pasang elektron non-ikatan. Sifat elektronegatif yang sangat tinggi bagi atom oksigen lebih lanjut mengakibatkan terbentuknya ikatan hidrogen antar molekul air yang sangat kuat pula.[8]

Pada saat ini, pencemaran berlangsung dimana-mana dengan laju begitu cepat yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan air sudah semakin berat dengan masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia yang kadang kala sangat berbahaya dan beracun meskipun dalam konsentrasi yang masih rendah seperti bahan pencemar logam-logam berat : Hg, Pb, Cd, As dan sebagainya.

Warna dan tingkat kekeruhan pada air dan larutan lainnya sangat bervariasi. Beberapa larutan, seperti air kemasan terlihat jernih, sementara yang lain kelihatan sangat tercemar oleh limbah industri sehingga terlihat keruh dan buram. Kekeruhan yang terjadi ini disebut turbidity. Kekeruhan disebabkan oleh partikel halus tersuspensi dalam air yang menyebabkan cahaya tidak dapat merambat lurus dalam air. Clay, lanau, plankton dan mikroorganisme lainnya merupakan contoh partikulat yang menyebabkan kekeruhan. Banyak penyebab kekeruhan tidak selalu berbahaya bagi kesehatan manusia, tetapi kekeruhan dapat menjadi tanda lain bagi masalah yang lebih serius. Misalnya, air kolam keruh mungkin tidak berbahaya untuk perenang, tetapi bisa menunjukkan adanya kelebihan karbonat yang dapat merusak kolam itu sendiri

Turbidimetri adalah suatu metoda analisis kuantitatif yang berdasarkan pada pelenturan sinar oleh suspensi zat padat. Pada dasarnya yang diukur adalah perbandingan antara intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar mula – mula. Sinar yang dipancarkan oleh lampu (sumber cahaya) akan dipantulkan oleh cermin cekung dan kemudian dijatuhkan pada contoh yang mengandung partikel yang tersuspensi. Sinar yang  jatuh pada partikel – partikel yang tersuspensi tersebut akan ditebarkan / dihamburkan. Kemudian sinar yang dihamburkan oleh cuplikan akan ditangkap oleh nephelometer yang mana arahnya tegak lurus ( 90O ) dari sumber cahaya. Sinar yang diteruskan ditangkap oleh pengamat yang arahnya membentuk garis lurus dari sumber cahaya disebut turbidimeter.  
(Gambar 1. Instrumen Turbidimeter)

Turbidimeter merupakan sifat optik akibat disperse sinar dan dapat dinyatakan sebagai perbandingan cahaya yang dipantulkan terhadap cahaya yang tiba. Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspense adalah fungsi konsentrasi jika kondisi-kondisi lainnya konstan. Metode pengukuran turbiditas dapat dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu pengukuran perbandingan intensitas cahaya yang dihamburkan terhadap intensitas cahaya yang datang; pengukuran efek ekstingsi, yaitu kedalaman dimana cahaya mulai tidak tampak di dalam lapisan medium yang keruh. Instrumen pengukur perbandingan Tyndall disebut sebagai Tyndall meter. Dalam instrument ini intensitas diukur secara langsung, sedang pada nefelometer, intensitas cahaya diukur dengan larutan standar. Turbidimeter meliputi pengukuran cahaya yang diteruskan. Turbiditas berbanding lurus  terhadap konsentrasi dan ketebalan, tetapi turbiditas tergantung juga pada warna. Untuk partikel yang lebih kecil, rasio Tyndall sebanding dengan pangkat tiga dari ukuran partikel dan berbanding terbalik terhadap pangkat empat panjang gelombangnya.

Menurut Riza Julianti (2010), metode pengukuran turbiditas dapat dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut :

1.      pengukuran perbandingan intensitas cahaya yang dihamburkan terhadap intensitas cahaya yang datang;
2.      pengukuran efek ekstingsi, yaitu kedalaman dimana cahaya mulai tidak tampak di dalam lapisan medium yang keruh.
3.      instrumen pengukur perbandingan Tyndall disebut sebagai Tyndall meter. Dalam instrumen ini intensitas diukur secara langsung. Sedang pada nefelometer, intensitas cahaya diukur dengan larutan standar.
(Gambar 2. Turbidimeter)

JUAL TURBIDITY METER
TURBIDITY METER

Turbidimeter meliputi pengukuran cahaya yang diteruskan. Turbiditas berbanding lurus terhadap konsentrasi dan ketebalan, tetapi turbiditas tergantung. juga pada warna. Untuk partikel yang lebih kecil, rasio Tyndall sebanding dengan pangkat tiga dari ukuran partikel dan berbanding terbalik terhadap pangkat empat panjang gelombangnya.

Turbiditas disebabkan oleh partikel-partikel padat yang tersuspensi dalam air. Suspensi adalah suatu sistem heterogen dimana partikel atau molekul zat terlarut (solute) terbagi diantara partikel atau molekul pelarut (solvent) yang mana masih bisa dilihat antara solute dengan solvent, misalnya suspensi pasir di dalam air. Sehingga menyebabkan cahaya yang dilewati pada cairan tersebut terhamburkan oleh partikel –partikel tersebut dan cairan secara fisik akan terlihat keruh. Partikel-partikel yang menyebabkan kekeruhan dalam cairan diantaranya zat padat yang tidak larut, plankton dan mikroorganisme lainnya yang terdapat di dalam air.

Meskipun partikel-partikel tersuspensi belum tentu berbahaya bagi manusia, namun turbiditas merupakan suatu indikator awal dari pencemaran air oleh beberapa material. Semakin tinggi turbiditas, maka tingkat pencemaran dalam air semakin tinggi pula. Ada dua metoda yang digunakan untuk mengukur turbiditas, yaitu:

1.    Metode Jackson Candell Unit
Satuan Jackson Turbidity Unit (JTU), dimana 1 JTU sama dengan turbiditas yang disebabkan oleh  1 mg/l SiO2 dalam air
2.    Metoda Nephelometric Turbidity Unit (NTU)

Sebuah turbidimeter selalu memantau cahaya pantulan dari partikel dan tidak atenuasi karena keadaan keruh. Di Amerika Serikat pemantauan lingkungan unit standar kekeruhan disebut Nephelometric Turbidity Unit (NTU), sedangkan unit standar internasional disebut Formazin Nephelometric Unit (FNU). Unit berlaku paling umum adalah Formazin Turbidity Unit (FTU), meskipun metode pengukuran yang berbeda dapat memberikan nilai sangat berbeda seperti yang dilaporkan dalam FTU.         

Pengayakan merupakan pemisahan berbagai campuran partikel padatan yang  mempunyai berbagai ukuran bahan dengan menggunakan ayakan. Proses pengayakan juga digunakan sebagai alat pembersih, pemisah kontaminan yang ukurannya berbeda dengan bahan baku. Pengayakan memudahkan untuk mendapatkan tepung dengan ukuran yang seragam. Dengan demikian pengayakan dapat didefinisikan sebagai suatu metoda pemisahan berbagai campuran partikel padat sehingga didapat ukuran partikel yang seragam serta terbebas dari kontaminan yang memiliki ukuran yang berbeda dengan menggunakan alat pengayakan

Untuk menganalisis hasil penghancuran bahan-bahan dilakukan dengan ayakan standar yang disusun secara seri dalam satu tumbukan, pada bagian bawah dari tumbukan susunan ayakan ditempatkan pan sebagai penampung produk akhir. Penyusunan ayakan dimulai dari ayakan yang mempunyai ukuran mesh kawat lebih besar sampai ke ukuran mesh yang lebih kecil. Penyusunan ayakan dimulai dari ayakan yang mempunyai ukuran mesh kawat lebih besar sampai keukuran mesh yang lebih kecil, ukuran mesh yang digunakan dalam percobaan ini disusun dari mulai ukuran 100 mesh, 80 mesh, 60 mesh dan terakhir pan. Pengayak yang digunakan jenis ini bentuknya sederhana, banyak ditemukan di areal pertanian. Pengayak tipe ini merupakan pengayak berbadan datar dan digunakan secara luas dalam proses sortasi, berdasarkan ukuran dari bahan baku seperti kacang-kacangan dan biji-bijian. Juga digunakan dalam proses sortasi selama proses pengolahan dan produk akhir dari seperti tepung, gula, garam, bumbu-bumbu masak dan rempah-rempah. Pengayak ini mempunyai rancangan celah atau lubang yang tetap yang disebut fixed aperture.

Proses pengayakan ini digunakan untuk memisahkan bahan pangan, yang mekanisasinya dapat memberikan nilai tambah yang tidak dapat disangkal lagi dalam proses pengolahan pangan. Pengukuran ukuran (size reduction) adalah unit operasi dimana ukuran rata-rata bahan pangan padat dikecilkan dengan alat penggiling (grinding). Keuntungan pengecilan ukuran bahan pangan adalah adanya kenaikan ratio luas permukaan dengan volume bahan pangan sehingga mempercepat laju pengeringan, pemanasan, dan pendinginan serta meningkatnya laju ekstraksi, adanya ukuran yang seragam, meningkatkan efisiensi pencampuran misalnya tepung sup dan kue, dan baik pada pengecilan maupun emulsi tidak menimbulkan efek pengawetan
DAFTAR REFERENSI :
 Achmad, Rukaesih. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: ANDI, 2004
Andriani, Mirna. “Laporan Mingguan Praktikum Mesin Peralatan Industri Pangan Pengayakan “Tepung Jagung dan Tepung Beras”, scribd.com. 9 Februari 2012. www.scribd.com. Diakses pada tanggal 2 April 2012
Anonim. “Air”, wikipedia.com. 2011. http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 2 April 2012
Anonim. “Turbidimeter”, water.epa.gov. 12 Januari 2011. http://translate.google.co.id. Diakses pada tanggal 2 April 2012
Fatmawati, Dewi. “Pengayakan-1”, scribd.com. 29 Maret 2011. www.scribd.com.  Diakses pada tanggal 2 April 2012
Julianti, Riza. “Laporan Praktikum Pengenalan dan Aplikasi Alat Turbidimeter Pada Pengujian Kekeruhan Air Limbah”, scribd.com. 2010. www.scribd.com. Diakses pada tanggal 2 April 2012
Kautsar, Ahmad. “Turbidimeter”, scribd.com. 18 Mei 2010. www.scribd.com. Diakses pada tanggal 2 April 2012
M, Khopkar S., Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta: UIN-Press, 1984
Sugiyarto, Kristian H., Kimia Anorganik I. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2004


[1]Anonim,”Air”, Wikipedia.com.  2011.  http://www.wikipedia.com (2 April 2012)
[2]Riza Julianti, “Laporan Praktikum Pengenalan dan Aplikasi Alat Turbidimeter Pada Pengujian Kekeruan Air Limbah”, scribd.com. 2010. www.scribd.com (2 April 2012)
[3]Akhmad Kautsar, “ Turbidimeter”, scribd.com. 18 Mei 2010 . www.scribd.com (2 April 2012)
[4]Anonim, “ Turbidimeter”, water.epa.gov. 12 Januari 2011. http://translate.google.co.id (2 April 2012)
[5]Mirna Andriani, “Laporan Mingguan Praktikum Mesin Peralatan Industri Pangan Pengayakan “Tepung Jagung dan Tepung Beras”, scribd.com. 9 Februari 2012. www.scribd.com (2 April 2012)
[6]Anonim, loc. cit.
[7]Ibid
[8]Kristian H. Sugiyarto, Kimia Anorganik I (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2004), h. 148
[9]Rukaesih Achmad, Kimia Lingkungan (Yogyakarta: ANDI, 2004), h. 91
[10]Anonim, loc. cit.
[11]Akhmad Kautsar, loc .cit.
[12]Ibid
[13] Khopkar S. M, Konsep Dasar Kimia Analitik (Jakarta: UIN-Press, 1984), h. 245